Indonesia memiliki ragam tumbuhan yang sangat kaya -konon jumlah variannya termasuk yang terbesar di dunia. Diantaranya terdapat sejumlah tumbuhan yang dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi obat, atau biasa disebut obat herbal. Sayang, posisinya masih “anak bawang” alias belum diperhitungkan dalam proses penyembuhan secara modern.
Judul:
Manfaatkan Alam untuk Pengobatan
Menyongsong Era Farmasi Herbal
Seringkali TEKNOPRENEUR menyunting kekayaan Indonesia sebagai sebuah pengantar dalam bahasan-bahasannya. Memang tidak bisa dipungkiri, posisi Indonesia di garis equator bumi, serta di antara dua lautan dan benua menjadikan alamnya bergelimang ragam tumbuhan dan hewan. Belum lagi kandungan minyak, batu bara dan potensi jenis energi lainnya yang kali ini tidak akan kita bahas dulu. Bentangan hutan menjadi salah satu bukti nyata keberadaan habitat flora berlimpah yang seharusnya bisa dimaksimalkan potensinya.
Indonesia diperkirakan memiliki 25.000 jenis atau lebih dari 10 persen jenis flora yang ada di dunia –sebuah data bahkan menyebut, masih ada sekitar 35.000 jenis lumut dan ganggang dimana 40 persen diantaranya hanya terdapat di Indonesia- yang menjadi bukti kayanya Indonesia akan keragaman tumbuhan. Belum lagi adanya kemungkinan perpaduan senyawa dari beragam tumbuhan tadi yang menguatkan peluang terjadinya kesenyawaan baru. Sebab, semakin tinggi tingkat evolusi dari suatu tanaman, maka keanekaragaman molekulnya akan semakin tinggi.
Berdasarkan itu, Indonesia menjadi sebuah negara mega biodiversity yang tidak terhitung berapa banyak senyawa kimia kandungan tanaman-tanaman tersebut yang bisa memberikan perkembangan besar pada dunia farmasi di Indonesia. Jika selama ini pasar obat didominasi oleh obat-obatan kimia (konvensional), dengan potensi Indonesia yang kaya tanaman obat, seharusnya bisa menjadi solusi pada kondisi kesehatan Indonesia yang memprihatinkan, seperti harga obat yang mahal, atau akses kesehatan bagi masyarakat yang sulit. Jargon back to nature semakin marak saat ini, dari segi ekonomi bisa dijadikan momentum untuk memperlebar peluang obat herbal menjadi industri yang berprospek luar biasa. (lihat TEKNOPEDIA untuk definisi obat herbal dan tradisional)
Di bumi pertiwi ini ada sekitar 9.606 spesies tumbuhan obat, meski ternyata hanya 350 spesies yang teridentifikasi dan sayangnya baru tiga hingga empat persen yang telah dimanfaatkan secara komersial. Nilai ekonomis dari keragaman flora Indonesia masih sangat sedikit yang dikomersialkan untuk membantu sektor farmasi. Kemauan dan kesadaran untuk memanfaatkan kekayaan hayati sendiri, sebenarnya akan membawa Indonesia menjadi pionir obat-obatan herbal, sekaligus memberi efek keuntungan ekonomi yang besar.
Kultur Herbal
Pemakaian obat-obatan dari tanaman sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia secara umum. Masyarakat Indonesia menggunakan tanaman obat dalam sistem pengobatan yang mereka lakukan berdasarkan pengalaman empiris yang akhirnya menjadi kebiasaan turun temurun. Uniknya, berdasarkan sejarah, kebiasaan tersebut sebenarnya didapatkan dari signature atau tanda-tanda yang ditunjukkan oleh suatu tanaman di alam liar. Asep Gana Suganda, dosen di Sekolah Farmasi ITB, mencontohkan penggunaan bambu kuning sebagai obat penyakit kuning (atau hepatitis), “Dulu masyarakat melihat warna kulit penderitanya, dan akhirnya mencoba menggunakan rebung kuning sebagai obat karena memiliki kesamaan warna. Berhasil.” Ketika masa pengobatan modern sudah mulai berkembang seperti sekarang, kebiasaan-kebiasaan dalam pengobatan tradisional (termasuk bahan-bahannya) kemudian diteliti khasiatnya, dan kemudian dijadikan referensi dalam pembuatan obat secara modern. Terbukti, “Secara ilmiah, setelah uji laboratorium, ternyata rebung kuning memiliki aktivitas sebagai hepatoprotector yang bisa mengobati hepatitis,” lanjut Asep.
Meski setelah diteliti lebih lanjut, tidak setiap khasiat suatu pengobatan tradisional sesuai dengan kebiasaan yang telah berlaku. Namun menurut Asep, ini tetap merupakan informasi yang harus dijadikan input dalam pengembangan obat herbal. “Tidak semua tanaman obat yang didasarkan tanda-tanda alam itu benar. Tumbuhan rawapia yang akarnya berbentuk seperti ular, biasanya digunakan untuk mengobati patukan ular. Justru sekarang terbukti berfungsi sebagai penurun tekanan darah tinggi,” papar Asep. Pentingnya informasi mengenai ragam obat tradisional itu juga disetujui oleh Chaidir Amin, Kepala Bidang Teknologi Sediaan Farmasi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang menutur, “Banyaknya informasi beredar di masyarakat secara etnofarmakologi yang seharusnya dikaji lebih lanjut untuk membuktikan khasiat tanaman tersebut apakah sesuai dengan kebiasaan pengobatan yang selama ini dilakukan.” Jika hasil kajiannya berbeda, setidaknya ini menjadi informasi baru bagi masyarakat, bahwa sebenarnya suatu tanaman tidak aktif terhadap suatu penyakit, seperti kebiasaan yang selama ini dijalankan.
Ketiadaan acuan mengenai tanaman obat dan juga kebiasaan penggunaannya menjadikan obat herbal Indonesia kalah pamor dengan produk obat herbal dari luar negeri. China misalnya, ribuan resep ramuan obat herbalnya terkumpul dalam panduan-panduan baku dan bahkan sudah dibukukan. Begitu juga dengan India dan Eropa.
Kalah pamornya obat herbal Indonesia dibandingkan produk impor juga dikarenakan ketiadaan pondasi. Misalnya India dikenal dengan filosofi Ayurveda, atau China yang dikenal dengan filosofi Yin Yang-nya, bahwa hidup harus seimbang. Ketidakseimbanganlah yang juga memberi dampak kesehatan manusia. Pengobatan holistik menjadi metode turunan dari filosofi Yin Yang tadi. “Dalam pengobatan China, tidak cukup dengan obat herbal saja, tetapi menyeluruh dan terintegral. Misalnya saja ada akupuntur, pijat dan bahkan ada dialog psikologis, karena sakit tidak disebabkan oleh faktor psikis saja,” jelas Chaidir.
Pondasi seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh pengobatan tradisional Indonesia –secara umum, tidak hanya obat herbal. Chaidir yang juga menjadi Chief Koordinator Bidang Bioteknologi Kesehatan Farmasi itu mengatakan, “Filosofi obat tradisional Indonesia misalnya saja keraton. Ini harus dieksplor. Misalnya sisi magis, atau sisi klasiknya.” Dari keraton masih bisa diperdalam lagi hingga bisa memberi warna pada pengobatan tradisional Indonesia. Untuk selanjutnya argumentasi filosofis tersebut bisa membawa ke dasar ilmiah yang menguatkan posisi obat tradisional Indonesia.
Bukan hanya itu, jika dilihat dari sisi bisnis, obat herbal luar negeri memiliki kekuatan lain berupa kemasan. Faktor ini memberi keleluasaan produk-produk itu melakukan penetrasi di pasar Indonesia –yang sebenarnya juga memiliki kekayaan obat herbal sendiri.” Dari segi kualitas, obat herbal buatan Indonesia tidak kalah dibandingkan obat dari luar, bahkan bisa dikatakan sama. Chaidir menilai, brand pengobatan tradisional China sudah terlanjur kuat, “Karakter dari obat herbal itu kan berdasarkan kepercayaan. Orang percaya obat China punya khasiat.” Pengobatan China memang dikenal berkhasiat selama ribuan tahun di seluruh penjuru dunia. “Jadi ketika obat herbal China masuk, mereka mempunyai daya tarik tersendiri sehingga bisa bermain banyak di pasar Indonesia,” tandas Chaidir.
Apik Sejak Bibit
Memajukan obat herbal asli Indonesia bisa jadi merupakan sebuah tantangan besar. Bagaimana tidak, meski terkesan sederhana, sesungguhnya pengolahan tanaman sampai diterima menjadi obat yang memenuhi syarat qualified, ternyata membutuhkan tahap berstandar tinggi yang berkesinambungan. Setiap tahapan tentu memiliki ketentuan ketat untuk dipenuhi. Ketentuan ini sudah dimulai sejak pemilihan bibit tanaman dan proses tanam, termasuk memperhatikan faktor edapik (sifat, kesuburan, dan unsur hara tanah) dan klimatik (temperatur, sinar matahari, curah hujan, dll). Penggunaan teknologi pendukung juga sangat mempengaruhi hasil pada setiap proses budidaya, mulai pembukaan dan pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Hasil panen yang rimbun bukan jaminan keberhasilan. Yang harus diproritaskan adalah kandungan senyawa metabolit sekunder yang menjadi bahan aktif dalam sediaan obat herbal. Misalnya, untuk tanaman jahe (Zingiber officinale), ukuran jahe bukan tujuan utama, melainkan kandungan metabolit sekunder berupa minyak atsiri.
Untuk memperolehnya, tahapan pasca panen -seperti pembersihan tanaman, pemotongan, pengeringan, sampai penyimpanan- tidak bisa diremehkan. Hingga akhirnya bahan diolah menjadi simplisia (dipotong dan dikeringkan) untuk kemudian diekstraksi. Hasil ekstraksi inilah yang akan diformulasikan menjadi obat herbal. Semua harus dilakukan secermat mungkin, karena penanganan yang tidak tepat terhadap bahan baku obat bisa mengubah sifat fisika-kimia kandungan senyawanya. Khasiat obat hasilan bisa jadi meleset dari yang diharapkan. Semua proses tersebut merujuk pada good agricultural practice yang membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. “Bukan hal mudah memang. Semua harus terkontrol agar efek obat herbal hasil tanam hari ini harus sama dengan besok, dan seterusnya,” tegas Asep yang juga konsultan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), “Supaya ajeg, dan produk obat herbal kita terpercaya.”
Jika terpenuhi, maka itu bisa menjadi modal dasar agar perkiraan Intercontinetal Market Service (IMS) -sebuah lembaga riset pasar farmasi yang berbasis di Singapura- yang menyebut angka 7,2 triliun rupiah atau 16 persen sebagai raihan obat herbal di pasar farmasi Indonesia pada tahun 2010, bisa tercapai. Perlu kerja keras, konsistensi dan tentunya koordinasi karena pengembangan industri obat herbal tidak hanya melibatkan satu dua pihak saja. Konsumen Indonesia sudah memiliki keeratan dengan obat herbal, dan tentunya kekayaan alam pendukung yang tidak boleh disia-siakan. Jangan sampai negara lain mendahului, dan menjadikan Indonesia sebagai pasar saja. Mari kita songsong era farmasi herbal, dengan memanfaatkan obat dari “ladang” kita sendiri. []
Ahmad Zaki Zulkarnain
TEKNOPEDIA
Obat Tradisional
adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik (ekstrak rimpang) atau campuran bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Selama ini dalam obat tradisional dari tumbuhan jumlahnya lebih besar dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan untuk obat tradisional hampir selalu identik dengan tanaman obat.
(Sumber: Departemen Kesehatan)
Obat Herbal
menurut World Health Organization (WHO), adalah obat yang mengandung bahan tanaman atau bagian tanaman -dalam keadaan diolah maupun tidak- sebagai zat aktifnya, serta bisa mengandung zat tambahan (excipients). Kombinasi bahan alami dengan senyawa aktif sintetik kimia atau konstituen yang telah diisolasi tidak dianggap sebagai obat herbal. Sementara, European Medicines Evaluation Agency (EMEA) memberi definisi: bahwa obat herbal merupakan produk yang mengandung secara khusus bahan obat herbal (simplisia) atau preparat obat herbal. Yang termasuk kategori preparat terdiri atas bentuk sediaan serbuk, tinktur, ekstrak, minyak lemak, minyak atsiri, expressed juices, resin dan gum.
Sumber : www.teknopreneur.com |